Perbuatan yang Dapat Menghapus Dosa

 Perbuatan yang Dapat Menghapus Dosa

Sehebat dan sehebat apapun manusia, mereka tidak bisa lepas dari kesalahan sekecil apapun karena kelupaan, ketidaktahuan dan kelalaian, meskipun mereka berusaha untuk berhati-hati. Karena itu, melupakan dan membuat kesalahan adalah fitrah manusia. Namun ada perbuatan yang dapat menghapus dosa. Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Hud ayat 114:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (QS. Hud [11]: 114)

Ayat ini berisi perintah dan peringatan untuk berdoa bagi umat manusia, karena doa termasuk amal dan perbuatan baik. Biarlah dosa-dosa umat manusia terhapus dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik ini. Pada dasarnya semua ini adalah piawat, agar manusia selalu dalam keadaan mengingat Allah dalam segala keadaan, kapanpun dan dimanapun.

Salat lima waktu dapat melebur kesalahan terdapat pada hadis Nabi saw yang dikeluarkan oleh Muslim yang berbunyi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah saw berkata, “Salat lima waktu, Jum’at hingga Jum’at berikutnya serta Ramadan hingga Ramadan berikutnya merupakan penebus dosa di antara waktu-waktu itu semua, selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar”. (HR. Muslim) (Sahih Muslim/1/209)

Hadis ini menjelaskan bahwa dosa bisa terhapus dengan perkara-perkara ini, Salat lima waktu, Salat Jum’at hingga Jum’at selanjutnya, Puasa Ramadan hingga Ramadan selanjutnya. Garis bawahnya adalah hal di atas dilakukan selama seseorang tersebut tidak melakukan dosa-dosa besar.

Dalam riwayat lain, hadis senada disampaikan Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Bukhari yang berbunyi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُولُ: ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ ” قَالُوا: لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mendengar Nabi saw bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sungai di depan pintu rumah kalian, lalu kalian mandi di sungai tersebut sebanyak lima kali sehari, akankah kalian bilang kotorannya masih ada?, para sahabat menjawab, “Tidak ada sedikitpun kotoran yang tersisa”, lanjut Nabi saw, “Begitulah ibarat salat lima waktu, dengannya Allah dapat menghapuskan dosa-dosa kalian”. (Muttafaq ‘Alaih) (Sahih Bukhari/1/112)

Bukhari, Muslim, Ahli Sunan dan selainnya mengeluarkan hadis dari Ibnu Mas’ud,

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلًا أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ: {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ، وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114] قَالَ الرَّجُلُ: أَلِيَ هَذِهِ؟ قَالَ:(لِمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ أُمَّتِي)

“Sesungguhnya ada seorang lelaki mencium wanita (yang bukan mahramnya). Kemudian ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan hal tersebut. Kemudian turunlah ayat “Dan dirikanlah salat di kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa-dosa. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)” (QS. Hud ayat 114). Lelaki tersebut bertanya, “Apakah ayat ini khusus untukku wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Untuk semua umatku yang melakukan perbuatan tersebut”. (Muttafaq ‘Alaih) (Sahih Bukhari/6/75)


Komentar